Formula Menjadi Tough Guy

1 04 2009

Everyone is tested by life, but only a few extract strength and wisdom from their most trying experiences. They’re the ones we call leaders.

(Warren G. Bennis dan Robert J. Thomas)

Pekerjaan yang berat (tough job) tentunya memerlukan orang yang tangguh (tough guy) untuk mengatasinya. Lantas, bagaimanakah gaya kepemimpinan yang diperlukan CEO yang tengah mengalami pekerjaan sulit? Dan apa karakteristik yang perlu ada pada pemimpin yang tengah dalam kemelut? Sebagai catatan, pekerjaan sulit atau kemelut di sini cenderung pada situasi merugi, penjualan yang terjun bebas, utang yang menggila, atau dihantam citra negatif. Intinya, dalam kondisi low return, lost dan krisis.

Saya melakukan survei pada 15 CEO yang berkenan menjawab dari 30 pemimpin bisnis yang dihubungi. Untuk urusan karakter, menggunakan 20 pernyataan yang diambil dari Kouzes & Posner dalam The Leadership Challenge (1995), para CEO itu diminta melakukan pemeringkatan atas karakter pemimpin di masa sulit: mana yang “tidak penting” sampai “yang sangat penting”. Hasilnya?

Seperti tertera pada Tabel I (Karakteristik Ideal CEO Tough Job), mayoritas responden (13 orang) menempatkan “jujur” sebagai peringkat pertama. Bukan “setia”, “cerdas”, apalagi “ambisius”. Setelah itu, mayoritas menempatkan “berpandangan jauh ke depan” dan “tegas” di posisi kedua dan ketiga karakter yang “sangat penting” dimiliki.Selanjutnya, seperti terlihat di Tabel, menyusul “bisa diandalkan” serta “berwawasan luas”.

Terkejut? Jangan. Simak pendapat Robby Djohan yang belum lama meluncurkan bukunya Leading in Crisis, Praktik Kepemimpinan dalam Megamerger Bank Mandiri. Menurutnya, dalam situasi yang tough, kejujuran menempati posisi yang sangat krusial. ”Karena kejujuran akan menghasilkan trust,” katanya. Tanpa kepercayaan (trust), Robby menandaskan, akan sulit membangun komunikasi dan mengimplementasikan seluruh keputusan yang akan diambil sang CEO. Sehebat apa pun putusan itu, dan sebrilian apa pun pemikiran sang CEO, tanpa kepercayaan, kata Robby, “Nothing will happen.”

Adapun pengertian kepercayaan itu sendiri, Robby mengutip pendapat Warren Bennis, pakar kepemimpinan dari University of Southern California, yakni reliability (hal dapat dipercaya) dan konsistensi. Menurut Bennis, orang lebih suka menjadi pengikut seorang pemimpin yang dapat dipercaya meski sering berbeda pendapat, daripada mengikuti pemimpin — yang meski sering sependapat — tapi tak dapat dipercaya.

Kenyataannya, jawaban untuk urusan karakter ini cukup sejalan ketika para CEO diminta menggambarkan gaya kepemimpinan yang diperlukan dalam situasi sulit. Guna mendapatkan jawaban seputar gaya kepemimpinan, saya mengambil pertanyaan dari leadership.org. Ada 29 pernyataan yang diminta dari responden untuk mengurutkan mana gaya kepemimpinan yang “sangat tidak penting” sampai yang “sangat penting”.

Hasilnya, seperti tertera pada Tabel 2 (Gaya Kepemimpinan CEO Tough Job), “menciptakan atmosfer saling percaya” menempati peringkat wahid (dipilih 15 responden). Disusul, “menunjukkan kejujuran, sifat etis dalam segala hal” dan “menyatakan ekspektasi dengan jelas”. Itulah tiga jawaban “sangat penting”. Berikutnya adalah “mengambil tanggung jawab terhadap keputusan”, “memimpin dengan contoh” serta “menunjukkan keberanian dalam segala hal”.

Tampak jelas bahwa sebelum membeberkan visi serta tujuan yang ingin dicapai (di peringkat 13), yang diperlukan adalah terciptanya suasana yang kondusif lewat saling percaya satu sama lain. Terutama, CEO dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk bawahannya. Dan, tampak jelas bahwa kejujuran serta etika menjadi hal yang amat signifikan untuk mencapai atmosfer saling percaya itu.

Dari kedua tabel tersebut, terlihat bahwa unsur hard skill, kompetensi atau kecerdasan, tak menempati tiga teratas “sangat penting”, dalam urusan “mengembangkan inovasi”, misalnya. Yang dikedepankan adalah lebih banyak pada integritas dan sikap yang menunjukkan kekuatan untuk mengendalikan keadaan. Akan tetapi, jangan keliru. Menurut Robby, seorang CEO yang berada pada situasi sulit adalah orang-orang yang diasumsikan sudah memiliki dua hal: keahlian dan pengalaman. Tak mengherankan, yang dibutuhkan selanjutnya adalah lebih pada kualitas kepribadiannya.

Di antara kualitas yang sangat penting itu adalah “mengambil tanggung jawab terhadap keputusan” dan “menunjukkan keberanian”. Dua hal ini, di mata Eva Riyanti Hutapea, mantan CEO PT Indofood Sukses Makmur Tbk., memang urgen. “Seorang leader tidak boleh penakut ketika dia harus mengambil keputusan dalam menghadapi situasi yang amat sulit. Dia harus berani mengambil keputusan, tentunya dengan perhitungan,” katanya. Ibu dari Anastasia Emanuella yang juga CEO PT Usaha Kita Makmur Indonesia ini menyatakan, hal tersebut lantaran tak sedikit pemimpin — bahkan dalam kondisi yang tak tough sekalipun — yang bisanya cuma mengambinghitamkan orang lain.

Untuk urusan ”menunjuk hidung”, Noke Kiroyan jauh-jauh hari telah mengusirnya. Lelaki yang masih terlihat bugar di usia kepala enam ini pernah mengalami tekanan mahahebat saat perusahaan yang dipimpinnya, Kaltim Prima Coal mendapat gugatan banyak pihak, terutama demo buruh. “Ketika krisis terjadi, pemimpinlah yang paling dulu turun ke lapangan. Biar bagaimanapun, ia tidak boleh mendelegasikan kepada anak buah ketika situasi genting terjadi. Saya terjun langsung ke lapangan untuk menghentikan gejolak yang muncul,” ungkap lelaki yang per 1 Oktober 2005 berani menjalani tugas sulit lainnya. Tepatnya, sebagai CEO PT Newmont Pacific Nusantara. Seperti diketahui, Newmont tak putus dirundung masalah atas tudingan pencemaran lingkungan.

Pentingnya keberanian, dalam tafsiran Nugroho Supangat, CEO Dunamis, adalah termasuk bersikap tegas (determined), jauh dari sentimentil, dan kalau perlu, tega mengambil sejumlah tindakan yang mungkin terasa tidak nyaman. Sebab, “Terkadang dalam pekerjaan yang sulit kita harus mengambil tindakan yang tidak menyenangkan seperti mem-PHK-kan atau melepas lini usaha yang tak menguntungkan. Kita tidak boleh sentimentil,” ujarnya serius.

Berani mengambil tanggungjawab, pada sisi lain juga penting karena sekali sang pemimpin tak berani, maka ia bukan hanya menghancurkan atmosfer saling percaya, tapi juga akan meruntuhkan dukungan lingkungannya. Padahal, Eva menandaskan, tantangan terbesar pemimpin di tengah kondisi mahasulit adalah menciptakan dukungan lingkungannya. Lebih spesifik, dukungan timnya. Dari hasil survei sendiri, “mampu menggerakkan dukungan dari orang lain” berada di peringkat 7.

Perkara pentingnya kerja tim ini, menurut Tanadi Santoso, CEO Sam Design yang rajin mengamati perilaku kepemimpinan, tak bisa dipandang sepele. Sebab, “Nggak semua CEO itu perfect,” ujarnya tandas. Tanadi mengambil contoh bos Cisco, John Chambers. “Dia sangat jago dalam masalah human interest. Tapi dalam urusan strategi, ada yang membantu di belakangnya.”

Di luar urusan kejujuran untuk menciptakan atmosfer kepercayaan, pada akhirnya menurut Arvan Pradiansyah, ada empat karakteristik yang sejatinya harus dimiliki pemimpin yang sedang menempuh tough job, yang sebetulnya juga tecermin dalam Tabel 1 dan 2 dengan urutannya masing-masing. Lantas, apa saja empat karakteristik itu?

Pertama, harus memiliki visi. Gunanya, agar mereka tidak terjebak melakukan pekerjaan teknis dan rutin semata. Mereka harus melihat ujung dari usaha mereka mengarah ke mana. “Mereka harus punya big picture dari permasalahan yang sedang dihadapi,” tutur pengamat manajemen yang juga penulis buku You Are a Leader ini. “Istilahnya, harus bisa melihat the light at the end of the tunnel,” Nugroho menimpali.

Kedua, harus mempunyai kemampuan mengomunikasikan visi yang dimiliki. Komunikasi ini harus merata ke seluruh jenjang manajemen. “Harus bisa sharing ide, berbagi informasi dan perasaan, agar bisa meyakinkan orang lain,” ujar Arvan. Ketiga, kemampuan menggerakkan. Hal ini diperoleh dari kepercayaan orang-orang kepadanya. Kalau karyawan meragukannya, hampir pasti dirinya tidak akan mampu menggerakkannya. Adapun yang terakhir, pemimpin harus membangun kredibilitas dirinya, di antaranya dengan mengembangkan sikap rendah hati. Sejalan dengan empat hal yang dikemukakan Arvan di atas, Tanri Abeng yang sudah makan asam-daram di dunia kepemimpinan bisnis, mengeluarkan tipnya saat ditanya apa yang mesti dilakukan CEO ketika menghadap masa sulit. “Think simple, see fact, don’t assumption, firm and fair, and open minded with open attitude,” katanya. Artinya?

Seorang pemimpin harus berpikir sederhana, tetapi tidak berarti menyederhanakan atau meremehkan persoalan. Lalu, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan asumsi, tetapi harus melihat fakta-fakta yang ada yang dapat diperoleh dari proses check-recheck. Kemudian, bersikap disiplin dan adil. Selain itu, bersikap serta berpikiran terbuka terhadap kritik atau saran yang bisa saja datang dari pihak-pihak yang tak diduga sama sekali. “Termasuk bawahan sekalipun,” ia menandaskan.

Itulah formula menjadi tough guy. Pertanyaannya kemudian, adakah jaminan bila seluruh karakteristik di atas dimiliki, sukses akan diraih?

Tentu saja tidak, lantaran sukses-tidaknya seorang CEO sangat bergantung pada banyak faktor. Buat Robby, situasi sulit yang dihadapi setiap pemimpin kerap berbeda satu sama lain. Maka, ia berkeyakinan bahwa menjadi situational leader merupakan hal yang tak bisa dilupakan. Dengan kata lain, ia menyarankan selalu menganalisis situasi dan kondisi yang berkembang, serta mengambil keputusan berdasarkan perkembangan yang ada. Meski demikian, prinsip-prinsip atau karakter pemimpin tetaplah harus ada, seperti jujur dan tegas. Dalam situasi serta kondisi apa pun, itu mesti ada.

Beranjak dari unik dan khasnya persoalan yang dihadapi para pemimpin bisnis, saya pun meminta sejumlah pemimpin memberi catatan ”Langkah prioritas yang harus dilakukan CEO tough job”. Hasilnya?

Buat Rudjito, Chairman Lembaga Penjamin Simpanan yang juga mantan CEO BRI, prioritas pertama adalah menunjukkan diri sebagai CEO yang menguasai masalah. Selanjutnya, menciptakan keterbukaan dan memberi arahan tentang visi dan misi. Sementara itu, Boenyamin Setiawan, Chairman perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, PT Kalbe Farma Tbk., urusan visi menjadi prioritas pertama hingga ketiga, yang disusul pembuatan action plan. Adapun jawaban Budi Setiadharma, Preskom Astra International, senada dengan tip yang diberikan Tanri: mengumpulkan fakta serta menganalisisnya, sebelum membuat rencana aksi. Lebih lengkapnya, lihat versi ketiganya tentang langkah prioritas CEO tough job.

Mana dari ketiga pendapat itu yang benar, jelas bukanlah hal yang dicari di sini. Terbukti, toh mereka sanggup mengarungi hari-hari berat di perusahaan masing-masing. Yang menarik, dari jawaban para pemimpin bisnis itu, keluarlah 10 prioritas sebagai intisari seluruh pendapat yang muncul. Tiga prioritas teratas adalah (1) yakin tugas ditunaikan dengan adil dan dapat dipertanggungjawabkan; (2) menerjemahkan visi-misi dengan jelas; dan (3) membangun komunikasi yang melibatkan seluruh elemen sehingga muncul rasa kebersamaan dan sense of belonging. Lengkapnya, lihat Tabel: Intisari Langkah Prioritas.

Itulah formula menghadapi masa-masa sulit. Tentu saja, resep itu tak generik, seperti juga diyakini Robby. Terbukti, dalam konteks prioritas, pilihan antarpemimpin bisa berbeda satu sama lain, tergantung pada keahlian, pengalaman serta dinamika masalah yang berkembang. Bahkan, di lingkup internasional, resep yang diterapkan Jack Welch belum tentu dipraktikkan penerusnya, Jeff Immelt, mentah-mentah. Namun, apa pun formula itu, meminjam pernyataan Robert E. Quinn, guru besar University of Michigan, muara dan tujuan para pemimpin pemberani itu sama: menciptakan moments of greatness.

Jadi, wahai para CEO yang kini tengah menghadapi tough job, berkreasilah secerdas mungkin. Formula di atas bisa menjadi landasan untuk meracik resep sendiri.

Meracik untuk menjadi seorang tough guy.


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.