Pertama kali dioperasikan pada 15 Januari 2004, dengan tujuan awal adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Ibu kota kita, Jakarta. Dengan adanya Bus Way ini diharapkan pengguna kendaraan pribadi akan beralih ke Public Transportation, karena bus way sudah disediakan jalur khusus. Ide ini bangun setelah wakil rakyat kita berjalan – jalan keluar negeri (katanya sech study banding), ke (kalau gak salah) Bogota, Kolombia.
Perencanan awal direncanakan, jalur khusus disediakan (walaupun maksa mengambil jalan umum), harga di sesuaikan (murah), jadwal kedatangan dan keberangkatan bus juga di rencanakan. POKOKNYA OK deh …. seluruh penduduk kota Jakarta juga saya yakin sangat mendukung ide ini, karena kalau tidak kota Jakarta akan tambah semrawut …
Tapi …. (ini serunya …)
Semua itu khan hanya rencana diatas kertas, karena kenyataan dan realitanya Bus Way itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Berikut kurang lebihnya apa yang TIDAK dijalankan dengan baik oleh pemerintah DKI.
Point 1: Jalur khusus yang disediakan tidak direncakan dengan baik, karena baru peroperasi kurang dari satu tahun sudah rusak sana – sini, tambal sana – tambal sini. Yang akhirnya ujung – ujung di bongkar total, dan di COR, tapi selama proses itu dilakukan … bisa dibanyangkan macetnya jalan – jalan di Jakarta ?? sudah jalannya di rampas untuk jalur Bus Way, sekarang kena dampak dari penge-corannya, jalanan sudah seperti di NERAKA, bisa GILA …. jalan satu kilometer bisa ditempuh dalam waktu 1/2 jam … ini masa – masa paling (maaf) edan …
Point 2: Jadwal keberangkatan dan ketibaan Bus Way, dijadwalkan setiap 15 menit ada bus yang lewat. Kenyataanya boro – boro 15 menit, yang ada paling cepat 1/2 jam sampai 1 jam, itu pun bus yang tiba penuh sesak. Kalau halte bus-nya nyaman saya rasa lamanya menunggu akan tergantikan oleh halte yang nyaman, misalnya ber-AC, ada kantin, “luas”, kembali lagi semua itu tidak ada mangkanya NUNGGU bus jadi SANGAT TIDAK NYAMAN.
Point 3: Jumlah penumpang diangkut per Bus juga tidak diatur, sehingga orang yang naik Bus Way tidak ada bedanya dengan penumpang bus biasa. Berdesak – desakan seperti tape di empet – empet, memang sech di Bus Way ada AC, tapi kalau yang naiknya aja udah kaya tape, mana kerasa AC-nya yang ada tambah bau.
So.. dari point – point diatas, terlihat bahwa pemerintah DKI kurang konsern/perhatian dengan Bus Way ini. Padahal KONSEP/IDE/PELAKSANAANYA SUDAH BAGUS, tetapi tidak di imbangi dengan peningkatan dan pemeliharaan. Seharusnya jika pemerintah tidak mampu mengelola, bisa lepas ke perusahaan swasta, jadi pemerintah hanya menjadi regulator saja. Dengan demikian IDE yang ada bisa di WUJUDKAN dan di PELIHARA, bukan dibiarkan seperti sekarang ini. Jalanan MAKIN macet (jalur diambil), jadi lebih sumpek dari sebelumnya karena ada tambahan jalur khusus ini.
Tidak ada ceritanya menjalankan Bus Way itu RUGI, IMPOSSIBLE. Kalau operator sekarang mengatakan mereka rugi, sebaiknya mereka di Audit. Saya kira kerugian disebabkan KETIDAK EFISIENAN mereka dalam menjalankan operasional Bus Way. Karena kalau mereka efisien tidak boros, pasti tidak akan rugi. Nyatanya belum (saya) dengar tuch Bus Way-nya di BOGOTA, KOLOMBIA sana rugi, toch kalau rugi gak mungkin juga anggota DPR kita akan menjalankan IDE ini ya khan ….
Dibayangan saya, jika Bus Way ini berjalan dengan baik, kemacetan di Jakarta akan sangat berkurang. Logikanya siapa yang mau naik mobil pribadi ke kantor yang nota bene, bisa kena macet, boros bensin, kena three in one dibandingkan dengan naik Bus Way yang lebih cepat, nyaman dan murah ??
Gubernur sudah berganti, tetapi PODO WAE, tidak ada perubahan/ peningkatan.
Komentar Terakhir